Senin, 20 Mei 2013

SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL KENTRUNG

Kentrung Kreasi Blero - Paradise
Para peneliti dan pakar menengarai bahwa fungsi seni pertunjukan setidaknya sudah mulai dirasakan di dalam masyarakat yang mengenal tradisi bercocok tanam, yaitu ketika masyarakat sudah tidak berpindah-pindah tempat(nomaden) untuk menemukan dan mengumpulkan makanan yang disediakan oleh alam(food gathering). Waktu luang disela-sela dan diantara bercocok tanam merupakan saat yang tepat untuk berkesenian. Di samping itu, kebutuhan dan harapan akan keselamatan serta kesejahteraan di dalam kehidupan membutuhkan kehadiran seni pertunjukkan sebagai sarananya.

Simbol-simbol mistis yang berupa aspek-aspek seni pertunjukkan ditampilkan untuk memuliakan arwah leluhur dan kekuatan alam yang disakralkan. Mantera yang diserukan, gerak yang ditarikan, pakian dan rias yang dikenakan, perlengkapan yang digunakan, temapat dan waktu penyelenggaraan, serta warna-warni sesaji yang menyertai merupakan ungkapan kehendak komunitas yang melaksanakannnya. Melodi yang disuarakan sebagaimana juga gerak-gerak yang ditarikan dan aspek-aspek pendukung bentuk disajikan bukan semata-mata ungkapan keindahan, tetapi lebih ditegakkan sebagai pilar-pilar kesakralan ritual.

Zoetmulder dalam salah satu karangannya (1965) menyetujui pendapat Christoper Dowson yang menyatakan sebagai berikut: “Religion is key of history. We cannot understand the inner form of a society unless we understand its cultural achievements unless we understand the religious belief that lie behind them. In all ages the first creative works of culture are due to a religious inspiration and dedicated to a religious end.” Pemikiran itu dapat menjadi landasan bahwa ketika kita ingin mengetahui sejarah suatu kaum maka tinjauan yang bersifat religius menjadi sangat tepat.

Masyarakat Jawa pun tidak lepas dari konteks diatas. Sejak masa lampau yang ditandai dengan periode Jawa Kuno sekitar abad ke 8M, sudah dikenal berbagai seni pertunjukan. Selain memiliki fungsi sakral, seni pertunjukan juga memiliki estetika dan fungsi sosial ekonomi. Dalam prasasti Wukajana sebagai misal disebut bahwa dalam upacara penetapan Sima juga dilakukan pagelaran wayang dengan cerita Bima Kumara. Sesuai upara para penjaga mendapatkan  upah(patulak).


Sebutan Kentrung menurut berbagai sumber berasal dari berbagai kemungkinan, tidak ada satu sumber tekstual yang dapat digunakan sebagai acuan utama asal-usul sebutan tersebut, kemungkinan terdekat menurut Ismail Lutfi selaku dosen Sejarah UM adalah berasal dari keberadaan alat musik rebana atau terebang(waditra) yang menghasilkan bunyi trung-trung. Berbeda dengan sebutan kentrung dijawa tengah yaitu untuk menyebut gitar alat musik berupa gitar kecil dengan dawai 3. Perbedaan yang lain Kentrung Jawa Timur senantiasa dilakukan dengan sejumlah alat musik sedangkan kentrung gitar dapat dimainkan secara solo.

Kesenian tradisional di Jawa Timur sangat beragam. Menurut Ayu Sutarto selaku dosen di UNJ, menganggap wilayah Jawa Timur secara kultural bisa dibagi menjadi 10 wilayah kebudayaan, yaitu:
1.   Kebudayaan Jawa Mataraman
2.   Kebudayaab Jawa Panaragan
3.   Kebudayaan Samin(Sedulur Sikep)
4.   Kebudayaan Tengger
5.   Kebudayaan Osing(Using)
6.   Kebudayaan Pandalungan
7.   Kebudayaan Madura Pulau
8.   Kebudayaan Madura Bawean
9.   KebudayaanMadura Kangean
10. Kebudayaan Arek

Berdasarkan pembagian wilayah kebudayaan tersebut, sebaran Kentrung menunjukkannhasiln seni pertunjukan ini demikian populer. Kentrung dapat ditemukan baik diwilayah pesisir maupun pedalaman. Dari sudut pandang Sosial Politik kiranya kentrung bisa menjadi perekat antar warga masyarakat.

Bila melihat keberadaan kentrung dengan pendekatan SWOT kiranya kecil peluang kelangsungan atau kesinambungannya. Presentase faktor kelemahan dan ancaman terlalu kuat. Kondisi demikian dialami oleh semua seni pertunjukan tradisional. Sebagai ilustrasi betapa sulitnya melestarikan seni tradisional dapat kita ambil contoh dari faktor eksternal yaitu hadirnya televise. Tayangan berbagai seni pertunjukan tradisional ditelivisi menjadi alasan orang tidak perlu lagi pergi ketempat dimana seno pertunjukan digelar. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap jumlah penonton.

Perjalanan Sejarah mencatat bahwa seni pertunjukan tidak diragukan lagi memiliki arti penting bagi kehidupan bermasyrakat. Seni pertunjukan dengan aspek-aspek pembentuk sosoknya sesungguhnya telah berusaha menempatkan diri sebagai pilar-pilar yang dapat digunakan sebagai penyangga kehidupan berbangsa yang saat ini sedang dalam pembangunan. Masyarakat Indonesia yang sedang dalam pembangunan, khususnya pembangunan moral memerlukan dukungan untuk kebersamaan. Kebersamaan yang dilandasi oleh toleransi bermasyarakat ditawarkan oleh seni pertunjukan kepada kita yang sedang membangun kembali jati diri, kebanggaan, dan martabat bangsa seperti sekarang ini.


DAFTAR PUSTAKA
Ali, S.R. 2000. “Menggali Nilai-nilai Budaya Melalui Susastra Rakyat Tradisi Lisan” dalam Warta ATL. EDISI April 2000. Jakarta: ATL
Danandjaja, J. 2002. Folkor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongen, dan lain-lain. Cetakan ke 6. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Hutoma, S.A. 2001. Mutiara yang terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: HISKI Komisariat Jawa Timur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar